TADARUS MERAH
: imam samudera
menderaslah tadarusku, selalu
bagai karma hujan di mataMu:
dari laut pulang ke laut
kabut
runtuhkan rumah-rumah
pasir
yang mereka bangun sepanjang tamasya
pesisir
hanyutkan aku hanyutkan
sebagai musa
seperti pernah engkau pertemukan
dengan bunda yang duka
fir'aun, fir'aun
aku kan jilati amis darah
batam, 0212 02
saujana romeo faza
RETUR CINTA SEKUJUR CATUR
: laila, elma, ayu, tammi, riska, lainnya
bukan pamrih
bila kau ucap lagi cintamu
yang dulu pernah hamil tua
meregang, memerih ketuban
melahirkan kanak-kanak pion
yang kau elu menjaga raja kasihmu kelak
tapi hitam, tapi putih
kan tiba juga waktu
akhirnya terbaca: kau tak bahagia, ternyata
mengerang, di belakang,
setiap kali beri sayang
sudah, jatuhkan saja:
cumbui aku sehijau melon
atau pekikkan itu: skak!
barangkali hanya dalih
(apalagi yang lebih sembilu?)
sebab kau tak berhenti bertanya: mengapa
adakah yang tak sia-sia sesungguhnya
apakah setia
mengukur jejak kuda hutan
atau membangun benteng dari papan
pada tiap sekon
tak berjarak?
angin memang telah lerai, menyerpih
tapi burung-burung petang masih saja
menorehkan biru
seperti hujan akan selalu ada
mengilhami lumut dalam lumat ciuman
paralon
tua
tak retak
tak
batam, 301102
saujana romeo faza
SEKARAT RINDU, SEKERAT KAU
biarlah kini kukepayangi dulu
derit engsel yang luruh
di ujung sajadah itu
mungkin beban paling berat adalah rindu
perhentian masa kanak
ketika kau sapa gemuruh siak
antara cecak
juga daun-daun pintu
biarkanlah kucumbui dulu
gurindam yang mengeras
di pori tingkap itu
kerana entah pabila lagi
kuhirup angin yang khatam
di jala nelayan ini
ketika rahasia tersimpan
mengembarai mimpi
ke semua jauh
melempar sauh
biar, biarkanlah riuh kenangan menuba
melukai setiap igauku
aku kan selalu setia untuk tetap mengingat
karat tak karat
batam 02
saujana romeo faza
TERATAI
: bagi penakluk teguh
sekali pandang
tangkaimu jadi sepotong petang
tersangkut rindu yang lusuh
sungguh
pada lanskap merah disalib senja
kesabaran waktu terbakar
kolam hitam saga
tempat unggas-unggas berkaca
membincang cinta yang mekar
antara mitos tanda jasa dan sia-sia
sekali mengapung
padamu jua sajakku relung:
diri yang dibesarkan lumpur
adalah persinggahan ikan-ikan ketam
dalam salam
dan pelipur
batam 02
saujana romeo faza
SEBELUM AKU MEMBUNUHMU, IBU
-satu-
ibu
kukirim surat ini pada segala ababil
di langit yang penuh humus
sungguh, aku hanya tak mau
daun-daun rindu ini hangus
sebagai tumbal
sebelum kau baca tuba batu
bermekaran di hatiku
-dua-
telah kuketam waktu sepanjang jejak
sepanjang air matamu, ibu:
memanggul doamu kembali
aku kini berdiri di beranda
penuh genangan bangkai
antara masa silam berderai
dan peperangan hari ini
yang mesti dilerai
kelopak musim gugur menggamit igauku
tentang semayam musik masa depan
kusematkan ajal yang mematung
pada puncak karang
agar segera dilamun badai
dan pecah terserak
ke segala pantai
mengapa Rabi'ah Adawiyah ingin menutup neraka
dengan tubuhnya
mengapa seseorang telah menutup usia
saat cinta bergetar di seluruh asma
bimbang jam, wahai, merah nafasmu
telah melarutkan persinggahan
sementara cuaca yang gaduh
kian menuntunku menghunus perlawanan
sujudku berdarah
ditikam tangismu, ibu
yang tak pernah basah
-tiga-
aku berkeras untuk tak berdusta
dengan sejarahku sendiri, ibu
yang aus dan diselubungi kabut
pernah rahangku patah menyebut namamu
sedang igaku berderak
digulung ular Sakati Muna
aku tak berdusta
untuk mencintaimu begitu rupa
walau hutan, sungai, segalanya
telah menyeret bangkaimu yang pengap
agar senantiasa kudekap
aku benci berdusta
dari nista pada kusta di tubuhmu, ibu
sepasang dadamu yang picak
tak boleh kubayangkan
sebagai buah ranum
bergelayut di tali kutang berenda
lemakmu hangus mendengus darahku
yang telah lama tumpah di kuala
sedang para kelenjar di selangkanganmu
terus saja mencucuk ari-ariku
yang tertanam sebagai jadah
tapi bukankah pantang seorang lelaki berdusta?
dengan perih yang masih tersisa
aku menakik dadamu
menampung susu yang tak lagi meleleh
sementara jejak darah di lingkar putingmu
telah kusirami garam
sebelum anjing dan ular dan lipan
memburumu dengan bisa terjulur
karena bagi mereka
ratapmulah ibu dari segala
-empat-
ibu
balaslah suratku
jemputlah letihku
sayatlah dagingku
lemparkan buat iblis di kubur-kubur:
sebelum aku lebih dulu membunuhmu
sambil menenggak anggur!
batam 02
saujana romeo faza
ASBAK SATU BABAK
pernah aku berpikir
hidup ini tak ubahnya setubir asbak
terbuka: menerima begitu saja segala
dengan bentangan dada
atau menunggu cuma
takdir tembakau menyelesaikan cerita
tanpa harus terbakar
jengkal-jengkal nikotin dan tar
lalu ketika akhirnya
puntung-puntung menumpuk
dan lubang telah penuh
tinggal soal memilih belaka:
bersiap lusuh
atau menyaksikan manusia
menjauh
pbaru-batam 02
saujana romeo faza
PHILOSOPHES
cuma misal yang lewat
melambaikan berkubur rasa enggan
yang mengekalkan hasrat
baiklah akan kukecam Nagasaki
Sakharov barangkali
yang terlalu merisaukan pelanggaran hak-hak azasi
daun-daun di nun menyelundup
ke sebalik perumpaan riuh angin
sayup-sayup kudengar jua Voltaire dan Rousseau
di ujung salon
membicarakan karma seorang lelaki
yang tengah berdiri
dalam bayang-bayang utopian dan puisi
tapi hanya tanya tanya tanya yang lintas
meninggalkan ambisi atau bahkan mungkin antusias
beban-beban kemanusiaan sejak abad 18
baiklah akan kuikuti holobis kuntul baris:
pembaruan yang mengharuskan harapan
di jalan-jalan kerontang yang pernah menyatukan doa dengan kata kata kata
bersama apapun sah
menyetubuhi ketakterhinggaan hampa
baiklah, baiklah, keasingan ini
mungkin hanya sisa mimpi semalam
kalau harus kutenggelamkan jua rindu
biarlah kukuliti dulu diri
meski tanpa catatan kaki
seperti Nietzche, Karl Marx bagai
mengurapi waktu dan menunggu
tuhan
sampai mati
sampai candu
pbaru-batam 98-02
saujana romeo faza
HIBAHKAN SATU
hibahkan satu, Muhammad, padaku
cinta yang senja
agar rumah-rumah kaca
memantulkan perih sua
hibahkan satu, Ahmad, cinta yang senja
agar selaksa mata kail meghunjam dada
darah kan jadi bambu, jelma pancing
padamu, aku gemburkan tanah
sebagai zikir cacing
walau jaring dunia meminta lelaba
penuh lalat dan lipas dan serangga di dalamnya
aku tetap merayumu
--seronok, seronoklah--
menghibah cinta yang senja
tengok, matahari hampir sempurna
di linangan ufuk jingga
hibahkan padaku
satu padamnya saja
jadilah
biar sinar segala
pbaru-batam 98-02
saujana romeo faza
MILLENIUM
kupu dan rerama mengecup ubun darah
yang menggenang di jalanan
hujan masih belia
mengarsir peluru yang tiba sendiri
dari halaman
ibu yang telah lama menitipkan payung hitam itu
padaku, berkata:
''kalau Mami menjemputnya nanti
Mami sudah tak melihat kau membujang lagi.''
pbaru-batam 99-02
saujana romeo faza
RAMADAN AKU BERTANYA
aku bertanya
datang biru malammu
dengan sewirid neon
tapi mengapa selalu saja
angin bersiap menghisap
gugur laron
firmanmu sering menunjuk lebuh
tempat riuh menabal
dan diam batuku setubuh
berabad-abad telah kususun aspal
hanya seluruh nama keretakan
yang tergenapkan
aku bertanya, bertanya: mengapa dari sangkar bulan kudus
selalu berlepasan rindu yang kabus
pbaru-batam 02
saujana romeo faza
KE HADIRATMU: SATU
1.
di liang anyir ini, luka membilangmu penuh rindu
aku belajar jadi seseorang yang melesat jauh
dari masa depan
seperti belajar menekan pelatuk
untuk sesuatu yang telah lama tembuk
Sysiphus, Sysiphus, aku mencium bau batu
berzikir di punggungmu
2.
angin memang selalu gusar
dan kita lahir dari tualang sangsi
memalsukan fana: perang tak berakhir
tak pernah akan berakhir
di ujung tarikh, orang-orang mengungkai kepedihan
meyisihkan doa yang terlalu kepayang
akan kemerdekaan abadi
di ujung tarikh, orang-orang mengungkah
rahim bunda
sambil sesekali mengokang senjata:
minta dilahirkan kembali
sebagai bayi yang ranggi dan tak berdosa
3.
demikianlah, bendera demi bendera kibar
menyanyikan lagu kebangsaan yang lapar
pada musim kemarau yang letih menerjemahkan debu
dengan bahasa-bahasa romantik
tak ada percakapan di sini: tak ada
kecuali tamasya sungkawa
bahwa kita harus punya tanah sendiri
menjaganya dengan apapun cara
4.
di lubang bacin inilah luka memanggilmu bertalu-talu
sebab tak ada yang tersisa pada biru nafas kita
kecuali gemetar kawat perbatasan
dalam hening sunyi
ditoreh kabut juga rerama
kecuali cinta yang tinggal gema
dalam kering perigi
menyudahi mimpi
menyudahi warna
jkt-batam 02
saujana romeo faza
SEGIGIL RINDU KAU KETATKAN
hujan belum jua reda dari malammu
seperti genangan sampah bunga plastik
di pucuk parit itu
kau ludah bayang bulan dengan kutuk
sisa doa semalam
masih tersimpan dalam mantel busuk
segigil rindu kau ketatkan
antara derak seng, paku tua
dan halte yang diam
angin memang telah membentang dena
memantul-mantulkan luka
yang belum selesai dibakar
tapi seseorang telah menyimpan bara di sebalik jas bekasnya
entah
padahal aku lama menunggu
unggun itu membeku, katamu
segigil rindu kau ketatkan
seperti menganyam derak seng dan paku tua
dihujan
hujan
entah
sudah berapa kantuk kau tunda
sekadar menunggunya
membalaskan dendam
batam 02
saujana romeo faza
ROMAN TAK SELESAI
aku mengarsir kapal-kapal ungu
di alismu yang ranjang
menepikan gelombang
derit engsel di pintu kabin
mengaliri hawa dingin
cintaku telah lama beku
di gudang-gudang ringkih itu, sayang
berdesakan di antara karung padi
erangan buruh dan riung bawang
tapi kapal-kapal ungu di sekujur alismu
masih saja memetakan debur
dari Punggur dan Sekupang
aku hibur jua pelabuhan tua di hatiku
bahwa esok mercusuar tak kan pernah berhenti menyala
datanglah
sesayat ranjang menanti kita
untuk meniupkan firman-firman lama
bacalah
aku mengerti
camar-camar perbani memang seharusnya
terbang tinggi
seperti juga aku harus memahami
mengapa kau biarkan rambutmu tergerai
di gerai-gerai plaza dan lampu-lampu trotoar
yang memendarkan luka
aku akan mengarsir debu
yang kini melekat di pita kepang itu
angin malam dini hari lalu
masih menyibak tengkukmu
mari biar kuseduh
aroma mayat yang gelisah
mencari kerandanya sendiri
batam 01
saujana romeo faza
ON
karpet teleh seret tidurku
seperti ujung gaun pengantin
yang menarik bangku-bangku gereja
genang kenang itu kini melantai:
ups, kabutkah atau kampung halaman
yang selalu terjaga
antara ladang tebu dan film-film biru
ah, tapi tak apa
malam kan segera mengeringkannya
setelah kuciptakan gugus-gugus
yang lebih biru di atas bantal
dengan bibirku: 5,0 mg nikotin, 19 mg tar
mataku, hamparan kebun ganja yang sayup
adalah kamp tahanan tawanan perang
di bukit pos jaga itu, kucuri cahaya bulan redup
mengintai jengkal demi jengkal rindu yang membangkang
wuih, perang...
house music, mickey mouse, aku haus
please, tolong tutup jalan pulang...
batam 01
saujana romeo faza
KIPAS ANGIN
berputar ia, di antara tingkap
angin tak terdengar, tak terbaca
pusaran itu tajam, mengarsir syahwat
ingin yang sakral: sakwasangka
kauusap tubuhku basah
kuisap baling-baling atas bukitmu
berdarah
sembilukah yang berkisar
atau panik terlanjur mencintaimu: barangkali
lewat arus dari langit-langit
kamar ini
engkau akan menyaksikan getar stalagtit
kelentit dan orgasme yang tak sampai
tapi tetap ingin kuhapus khianat
dengan sisa-sisa keringat
meskipun dendam masih berpeluh
pada masa silam yang kautuduh
teluh
kaujambak rambutku merah
kusamak anting-anting di selangkanganmu
ghirah
batam 02
saujana romeo faza
SEMBAHYANG, PEREMPUAN
hari demi hati
dayung rakaat sampai selat
aku tak kenang lagi mula kesumat
bila cinta dimulai
ada kerling bulan diparut parit umur
kadang berkelebat jua giring-giring kaki betina
tapi bagai tanah yang dilampaui dedaun gugur
akulah ranting yang tak lagi merindu punca
kaukenangkah sekarat lukisan rumah bunda
yang diseberangkan gerimis senja
setelah sentak dari mimpi tenung anjing jantan
ke papak-papak purba terasing dari riuh jalanan
pada mulanya adalah perempuan
amuk yang jumbuh dengan akar
di sekujur dendam
dirajuk jalang yang jembut dan kelenjar
di sebuah dendam
aku tak ingat lagi tengah dosa
bila sembahyang dimulai
selama
Nya
batam 02
saujana romeo faza
BENCI TAPI RINDU
masih kuseduh sisa nafasmu
pada kecut sprei
di luar awan langsung menyerpih
saat matahari usai
tapi kenangan itu tak pernah hafal
bila cinta tumbuh di luka yang kekal
benci pun tahu: sepi ini melampau
sepi yang menderu pohon-pohon kemarau
mengapa sebab
oleh harap
ketika dikau pergi dengan sekuntum api
ketika kering dahanku hendak bakar diri
kubentang harap di konon-konon
mendulang malap dibasuh lanun
ada, memang, dendam terbantun
tapi kini tinggal sehuyung daun
ngejar embun
batam 02
saujana romeo faza
DI RUANG TAMU, GELAS RETAK KAU BERIKAN
o bulan yang mengerjap diparut parit
kutengok
sepi yang kian kecut esok
pada pintu tersingkap dan engsel berderit
di ruang tamu, gelas retak kauberikan
bukan perpisahan, katamu
tapi sualah yang menjijikkan
laron-laron terbakar di bawah pedih lampu
hari hujan
mengapa di pelipismu, selalu
kepayang lengang itu selalu menisik tindik
padahal nada-nada telah jatuh
di beranda: merangkai musik
kadang meregang jua gegas di lagu-lagu cadas
kadang menghentak entah: barangkali jazz, blues, mungkin rock
tapi aku tetap ingin belajar mencintaimu
dengan menghisap marijuana
dan menelan penderitaan seorang negro
dalam lukisan-lukisan kuno
van gogh, van gogh
inilah rindu dengan kesederhaan
menaruh sesobek telinga
batam 02
saujana romeo faza
LAGU GERMO
ini kabutku
kuserahkan sehelai demi sehelai
pada pucuk-pucuk gunung di matamu
sekadar menangkup magma
yang bersemu merah itu
duhai, debar gugup dan malu-malu
sebab sekejap lagi
tarian akan dimulai
merentak sekujur risalah
gairah
mencium ubun batu
dan lentik bangkai
tjpinang-batam 02
saujana romeo faza